Budaya Indonesia di zaman prasejarah

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara di kawasan Asia tenggara yang kaya akan sumber daya alamnya, kaya akan keaneka-ragaman flora dan faunanya.

Kita tahu kawasan di antara garis Wallacea dan Lydekker, mengandung fauna-fauna bercirikan oriental (Asia) dan Australia. Disamping itu, Indonesiapun kaya akan keaneka-ragaman aspek budayanya. Salah satu kekayaan aspek budaya yang kita miliki itu adalah dalam bidang prasejarah.

Dalam bidang prasejarah, nama Indonesia cukup dikenal di kalangan ahli paleo-antropologi dan arkeo-geologi. Situs-situs yang terletak di Pulau Jawa seperti Sangiran, Trinil dan Ngandong, yang terletak di sekitar aliran sungai Bengawan Solo di Jawa tengah dan Jawa timur, merupakan situs Plestosen yang penting karena disini telah diketemukan sisa-sisa kehidupan H.erectus yang pernah hidup dalam kisaran masa antara 1000.000-700.000 tahun yang lalu. Sisa-sisa budaya mereka yang berupa peralatan batu diketemukan dibanyak tempat seperti di Indonesia bagian timur (Flores, Timor) dan Semenanjung Malaysia (Bukit Jawa).

Situs Holosen di Pulau Jawa, antaralain, diwakili oleh Sampung dan Wajak yang terletak di kawasan Pegunungan selatan. Di daerah Jawa barat sendiri, Rancah yang terletak di timur-laut kota Ciamis dan Padalarang di sebelah barat-laut kota Bandung, masing-masing, merupakan contoh dari situs Plestosen dan Holosen yang berada di bagian barat pulau Jawa.

Situs-situs budaya prasejarah tersebut mempunyai nilai ilmiah yang tinggi, antaralain, untuk mempelajari bagaimana perkembangan budaya mulai dari zaman prasejarah hingga sekarang di kawasan Asia tenggara dan untuk memahami bagaimana sejarah perkembangan awal manusia di kawasan Asia tenggara.

Situs Holosen
Situs ini tersebar luas di Indonesia, mulai dari kawasan barat hingga timur Indonesia. Di Pulau Jawa situs-situs Holosen yang terkenal, antara lain, Gua Pawon dan Wajak.

Gua Pawon berada di perbukitan kapur Miocene yaitu di Pasir (bukit) Pawon yang terletak di daerah Padalarang sebelah barat-laut kota Bandung. Tahun 2003 ditemukan 4 rangka manusia di Gua Pawon yang kemudian diberi label R1, R2, R3 dan R4 yang mana sekarang dikenal sebagai sisa rangka “Manusia Pawon”. Dari keempat rangka tersebut hanya R3 dan R4 yang keadaannya cukup baik kondisinya, artinya kita dapat melihat atau menemukan sebagian besar anggota badan mulai dari kepala hingga kaki walaupun kondisinya sebagian rusak ataupun hilang. Sedangkan rangka yang lainnya (R1 dan R2) keadaannya tidak lengkap yaitu hanya bagian kepala saja yang terawetkan dan itupun kondisinya sudah rusak dan hancur di beberapa bagian.

R3 terletak dalam posisi menyamping ke arah kanan, bagian badan sebelah kiri berada di sebelah atas dan bagian badan sebelah kanan di sebelah bawah. Rangka ini diletakkan dengan sikap anggota badan terlipat, yaitu kedua kaki dilipat ke arah dagu, kedua tangan ditempatkan di antara kedua paha/kaki. Orientasi rangka berarah utara-selatan dengan kepala di sisi selatan dan kaki di utara, dan muka menghadap ke arah sisi timur.

Pertanggalan rangka Manusia Pawon, dengan menggunakan metoda C-14, telah dilakukan di Laboratorium C-14, Balai Arkeologi (Balar) Bandung. Dari hasil analisa tersebut diperoleh variasi umur Manusia Pawon sbb: 5660 170 BP untuk R1 dan R2; 7320 180 BP untuk R3 dan 9525 200 BP untuk R4.

Seperti halnya Gua Pawon, situs Wajak yang berupa ceruk-peneduh juga terletak diperbukitan kapur yang berada sekitar 2 km dari desa Campur darat sebelah barat-daya kota Tulung Agung, Jawa timur. Pada tahun 1880 dan 1890, secara berurutan, Rietschoten dan Dubois menemukan fosil-fosil kerangka H.sapiens yang kemudian dikenal sebagai fosil Manusia Wajak.

Pertanggalan Manusia Wajak telah kemukakan oleh beberapa peneliti. Penelitian yang terakhir menunjukan kisaran umur Manusia Wajak adalah antara 12.000-7000 tahun yang lalu.

Situs Plestosen
Sangiran, Trinil, Ngandong dan beberapa situs lainnya yang terletak di daerah aliran sungai Bengawan Solo adalah situs Plestosen cukup terkenal di dunia. Di sana banyak ditemukan sisa-sisa kehidupan ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, antaralain fosil-fosil hominid yang dikenal dengan nama Pithecanthropus (Homo) erectus. Akan tetapi dibandingkan dengan situs-situs lainnya, hingga saat ini, nama Sangiran lebih terkenal karena dari sini telah ditemukan ratusan keping tulang dan gigi H.erectus. Oleh karena itu, Sangiran dimasukan sebagai salah satu warisan dunia (world heritage).

Sayangnya, kebanyakan fosil-fosil H.erectus yang ditemukan di Sangiran bahkan di tempat lainnya, ditemukan secara kebetulan saja oleh penduduk lokal sewaktu mereka sedang bekerja di sawah atau ladang atau ketika mereka sedang berjalan disekiar sungai. Sehingga dengan demikian hali ini akan mengurangi nilai saintifiknya (ilmiahnya). Akan tetapi, sekarang ini telah dilakukan usaha untuk meneliti posisi stratigrafi dari fosil-fosil hominid tersebut dengan berbagai metoda.

Secara taksonominya, H.erectus termasuk kedalam famili Hominidae bersama-sama dengan manusia (genus Homo) dan australopithecine yang mana merupakan mahluk yang paling tua didalam kelompok Hominidae. Mereka pernah hadir di muka bumi ini sejak 4000.000 hingga kurang-lebih 1.200.000 tahun yang lalu.

Perbedaan antara H.erectus dengan manusia sekarang (H.sapiens) dapat dilihat dari morfologi-anatomi tengkoraknya. Hubungan yang bersifat evolusi antara H.erectus dengan H.sapiens dan antara H.erectus dengan genus Homo yang lebih tua lagi masih menjadi bahan perdebatan. Akan tetapi paling tidak ada sekitar 3 skenario yang ditawarkan untuk menerangkan hubungan tersebut.
Trinil
Nama Pithecanthropus (Homo) erectus menjadi terkenal bukan karena Sangiran-nya melainkan munculnya pertama kali nama fosil hominid tersebut berkaitan dengan usaha seorang pengikut Charles Darwin, bapak teori evolusi, yang bernama Eugene Dubois yang mencoba mencari “missing link (mata rantai yang hilang)” yang menghubungan manusia dengan kera di Trinil, Jawa timur. Pada akhirnya usahanya itu membuahkan hasil, yaitu dia menemukan sebuah fosil tempurung kepala (Trinil-2) dan tulang paha (Trinil-3) pada menjelang akhir abad ke 19 yang kemudian diberinama Pithecanthropus erectus (manusia-kera yang berdiri tegak) dan orang awam mengenalnya sebagai fosil Manusia Jawa.

Lokasi dimana Dubois menemukan fosil tersebut sekarang telah dibangun tugu peringatannya. Tahun 1939 Von Koenigswald dan Weidenreich melakukan studi perbandingan antara Pithecanthropus erectus dari Trinil dan Sinanthropus pekinensis dari Zhoukoudian (Cina). Menurut mereka, secara morfologi-anatomi, antara keduanya mempunyai kemiripan yang kuat. Oleh karena itu, Weidenreich (1940) mengusulkan satu nama saja untuk kedua fosil tersebut, yaitu Homo erectus, dimana fosil dari Trinil (khusunya Trinil-2) dan dari Zhoukoudian dijadian sebagai holotype -nya. Artinya, setiap fosil-fosil yang diketemukan dimana saja di dunia ini dapat dimasukan kedalam kelompok Homo erectus asalkan diteliti terlebih dahulu apakah ada kesamaan morfologi-anatominya dengan morfologi-anatomi kedua holotype tersebut atau tidak.

Dikemudian hari fosil H.erectus ternyata juga ditemukan di Afrika, Cina dan Eropa. Fosil-fosil H.erectus yang berasal dari Afrika mempunyai keantikan yang lebih akurat dibandingkan dengan temuan dari pulau Jawa dan Cina, terutama fosil-fosil yang berasal dari Koobi Fora dan Nariokotome. Fosil-fosil H.erectus itu mempunyai keantikan yang paling tua di dunia yaitu antara 1.800.000 – 1.400.000 tahun yang lalu.

Ngandong
Sejarah penemuan fosil hominid di Ngandong adalah atas usaha penelitian Oppennorth. Dia, dalam selang waktu 3 tahun mulai dari tahun 1931 sampai 1933, berhasil menemukan sekitar 11 buah tengkorak fosil hominid (yang kemudian diberi nama Manusia Solo) tanpa tulang muka baik utuh maupun berupa kepingan dan tulang kaki. Fosil-fosil tersebut ditemukan didalam endapan sungai Bengawan Solo di Ngandong, Jawa timur. Walaupun keantikannya masih menjadi bahan perdebatan dikalangan ahli, tetapi ada yang berpendapat bahwa Manusia Solo ini hidup dalam kisaran waktu antara 169.000-408.000 tahun yang lalu dengan rata-ratanya sekitar 265.000 tahun yang lalu.

Sangiran
Situs ini yang terletak kira-kira 15 km sebelah utara kota Solo, merupakan situs yang paling terkenal diantara situs lainnya dan sekarang telah menjadi salah satu “World Heritage”.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa kebanyakan fosil-fosil H.erectus dari Sangiran tidak bersifat in situ. Tetapi sekarang ini telah dilakukan usaha untuk mendudukan fosil-fosil tersebut dalam posisi stratigrafinya. Hasilnya adalah secara umum fosil-fosil H.erectus itu berasal dari lapisan sedimen antara antara bagian atas Formasi Sangiran (Pucangan) dan bagian tengah Formasi Bapang (Kabuh). Selanjutnya, fosil-fosil tersebut dikelompokan kedalam dua kelompok yaitu G/S (Grenzbank/Sangiran) dan Bapang AG (above Grenzbank) dengan kisaran umur antara 1.150.000 hingga 700.000 tahun yang lalu. Perbedaan antara H.erectus dari kedua kelompok tersebut dapat dilihat dari ukuran gigi geraham atasnya dimana ukuran gigi geraham atas H.erectus dari kelompok G/S yang lebih tua adalah relatif lebih besar dibanding H.erectus dari kelompok Bapang AG yang lebih muda keantikannya (pertanggalannya).

Beberapa koleksi fosil H.erectus dari Sangiran yang sering mendapat perhatian di kalangan ahli adalah S-17, Skull IX dan S-27.

Masalah lainnya, fosil-fosil H.erectus dari Sangiran sangat bervariasi baik ukuran maupun morfologinya. Hal ini menimbulkan berbagai interpretasi yang mana salah satunya ada yang berpendapat bahwa fosil hominid yang berasal dari Sangiran tersebut, paling tidak, bisa terdiri dari 2 tipe yaitu Meganthropus dan Pithecanthropus (Homo) yang terdiridari beberapa spesies lagi. Ide hubungan evolusinya pernah diutarakan oleh para ahli antaralain Sartono (1994).

Bandung, 22 April 2009; ultah TMII

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s