Siapa sosok Ki Sunda itu?

[31des12Sn vbm & 6jan13M vbm] Kira2 8 th yl ada semacam pertemuan dari kelompok pemerhati kota Bandung di Jl. M.Ramdan Bandung.

Salah satu topik yg menarik bg saya didalam pertemuan tsb adalah pembahasan nenek moyang Ki Sunda (urang Sunda) yang dipaparkan oleh Prof.Dr. RP.Koesoemadinata mantan guru besar geologi ITB. Menurut beliau kemungkinan nenek moyang Ki Sunda tersebut berasal dari golongan Homo erectus yang hidup disekitar Danau Bandung & mereka pernah menyaksikan terjadinya peristiwa alam yang besar yaitu meletusnya gunung Sunda purba dan munculnya gunung Tangkuban Perahu yang terjadi pada jaman Plestosen akhir; kira-kira 100 ribu th yl.

Dalam kamus umum bahasa Sunda, Ki adalah sapaan hormat kepada lelaki dewasa. Menurut Dinka S.Pradja (PR 24mei03) Ki Sunda atau urang Sunda adl masyarakat suku Sunda yg menghuni tatar Sunda konon sejak zaman Aki Tirem di ujung barat tatar Sunda di abad pertama masehi sampai saat ini. Mereka, didlm sejarahnya, pernah mengalami jaman keemasan yaitu pada masa Prabu Siliwangi sebagai pendiri & raja kerajaan Pajajaran yg berkuasa pd th 1482-1521.

Tetapi tampaknya pemakaian kata ”Sunda” jauh lebih tua usianya. Kata Sunda dipakai untuk nama sebuah gunung yaitu gunung Sunda purba yang hadir 2 juta th yl dan runtuh sekitar 100 ribu th yl dengan meninggalkan sisa antaralain Bukit Tunggul dan gunung Burangrang. Menurut Rouffaer (dalam The Geology of Indonesia yang ditulis oleh van Bemmelen 1949), kata Sunda muncul pertama kali pada batu prasasti yang ditemukan di Jawa barat. Tulisan tersebut diperkirakan dibuat pada tahun 1030 Masehi.Selanjutnya, menurut Prof.Berg, secara etymology, kata Sunda berasal dari bahasa Sanskrit “çuddha” yang berarti putih. Hal ini, mungkin berkaitan dengan letusan gunung Tangkuban Perahu yang mengeluarkan debu berwarna putih yang menutup seluruh perbukitan yang berada disekitar gunung tersebut.

Kembali kepada pendapat yang dilontarkan oleh pak Koesoema di atas, apakah memang benar demikian? Selama ini belum pernah ditemukan jejak kehidupan Homo erectus di tatar Sunda (tetapi ada laporan yang menceritakan tentang penemuan fosil gigi seri Homo erectus di Rancah, Ciamis tahun xxxx). Sebaliknya fosil-fosil dari golongan Homo erectus banyak ditemukan di berbagai situs yang berada disepanjang aliran Bengawan Solo seperti Sangiran dan Trinil. Di tatar Sunda sendiri fosil-fosil hewan yang diduga hidup sejaman dengan Homo erectus di Jawa tengah & timur banyak ditemukan disekitar Batujajar, Bandung Barat yang diduga hidupnya sejaman dengan Homo erectus yang berasal dari kawasan Jawa tengah dan timur.

Golongan Homo erectus yang berasal dari Sangiran dikenal sebagai ”Manusia Jawa”, Fosil-fosil mereka umumnya ditemukan di lapisan sedimen yang berumur Plestosen bawah; antara 1.15 hingga 0.7 juta tahun yl. Sedangkan golongan Homo erectus lainnya yang dianggap lebih maju (karena volume otaknya lebih besar) yaitu Homo ngandongensis atau ”Manusia Solo” yang mana fosil-fosilnya ditemukan di Ngandong (Jawa timur). Masa hidup mereka masih belum diketahui pasti, ada yang mengatakan hidup sekitar 250 ribu tahun yl dan sebagian lagi mengatakan antara 80 atau 100 ribu th yl. Kemudian ada banyak pendapat mengenai Homo soloensis ini antaralain mereka digolongkan sebagai Homo sapiens purba, seperti halnya manusia Neanderthal yang jejak kehidupannya banyak ditemukan di wilayah Asia barat & Eropa.

Adakah manusia yang hidup pada perioda antara 200-50 ribu tahun yl? Di Indonesia hingga saat ini belum pernah diketemukan fosil-fosil manusia yang hidup pada perioda 200-50 ribu th yl. Akan tetapi ada kemungkinan bahwa manusia telah hadir di kawasan Asia dan Australia sejak 70 ribu tahun yl. Hal ini didasarkan kepada temuan-temuan yang diduga merupakan sisa-sisa kehidupan manusia di suatu guha di Punung, Jawa timur yang mempunyai keantikan sekitar 80 ribu th yl dan bukti-bukti arkeologi di Australia yang mempunyai keantikan antara 60-38 ribu tahun yl. Kemungkinan bentuk tengkorak mereka mirip dengan dua fosil tengkorak yang berasal dari Asia barat (Israel) yaitu Skhul V dan Qafzeh. Kedua fosil tengkorak ini dianggap sebagai fosil Homo sapiens purba yang hidup pada jaman Plestosen akhir sekitar 100 ribu th yl yang morfologi tengkoraknya lebih robust dibandingkan manusia sekarang. Dari segi budayanya (alat batu) Homo sapiens purba ini mempunyai kebudayaan yang sangat sederhana dan tidak bervariasi. Tetapi memasuki perioda 60-40 ribu tahun yl teknologi peralatan lebih bervariasi. Hal ini mungkin disebabkan oleh kemampuan akal manusia yang hidup pada masa ini lebih maju sehingga mereka mulai menyebar ke berbagai tempat di muka bumi ini.

Jadi siapa nenek moyang Ki Sunda itu, apakah mereka dari golongan Manusia Solo (Homo soloensis)? Hal ini tetap merupakan misteri hinnga munculnya data baru tersingkap ke permukaan.
[Bandung, 11 September 2009]
[][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

Siapa Ki Sunda?
Posted on September 9, 2009 | Leave a comment | Edit

Pada pertemuan kelompok pemerhati kota Bandung di Jl. M.Ramdan Bandung hari minggu tanggal 5 September 2005, Prof.Dr. RP.Koesoemadinata mantan guru besar geologi ITB memaparkan pandangannya mengenai asal usul Ki Sunda sebagai nenek moyang orang Sunda yang hidup disekitar Danau Bandung. Dalam kamus umum bahasa Sunda, Ki adalah sapaan hormat kepada lelaki dewasa.

Dalam kehidupannya mereka adalah saksi bagi terjadinya peristiwa letusan besar gunung Sunda purba dan munculnya gunung Tangkuban Perahu yang terjadi pada jaman Plestosen akhir; kira-kira 100 ribu th yl. Mereka itu adalah dari golongan Homo erectus lanjut pak Koesoema.

Kapan golongan H.erectus hidup di Indonesia? Fosil-fosil dari golongan H.erectus banyak ditemukan di berbagai situs yang berada disepanjang aliran Bengawan Solo seperti Sangiran dan Trinil. Tetapi hingga saat ini fosil H.erectus belum pernah ditemukan disekitar dataran tinggi Bandung, tapi fosil-fosil hewan vertebrata banyak diketemukan di sekitar Batujajar yang diduga hidupnya sejaman dengan Homo erectus yang berasal dari kawasan Jawa tengah dan timur.

Golongan H.erectus yang berasal dari Sangiran, fosil-fosil mereka umumnya berasal dari lapisan sedimen yang berumur Plestosen bawah; antara 1.15 hingga 0.7 juta tahun yl. Golongan H.erectus ini dikenal dengan istilah “classic H.erectus”. Sedangkan golongan H.erectus lainnya yang dianggap lebih maju (karena volume otaknya lebih besar) yaitu H.ngandongensis atau H.soloensis (Manusia Solo) yang mana fosil-fosilnya ditemukan di Ngandong (Jawa timur). Ada banyak pendapat mengenai H.soloensis ini. Ada yang mengatakan mereka termasuk golongan H.erectus yang klasik, sebagian lagi mengatakan bentuk mereka adalah antara H.erectus dan H.sapiens dan sebagian lagi menggolongkan sebagai H.sapiens purba, seperti halnya manusia Neanderthal.

Kapan H.soloensis itu hidup masih merupakan tanda tanya besar. Ada yang mengatakan mereka hidup sekitar 250 ribu tahun yl dan sebagian lagi mengatakan antara 80 atau 100 ribu th yl.

Adakah manusia yang hidup pada perioda antara 200-50 ribu tahun yl? Di Indonesia hingga saat ini belum pernah diketemukan fosil-fosil manusia yang hidup pada perioda 200-50 ribu th yl. Akan tetapi ada kemungkinan bahwa manusia telah hadir di kawasan Asia dan Australia sejak 70 ribu tahun yl. Hal ini didasarkan kepada temuan-temuan yang diduga merupakan sisa-sisa kehidupan manusia di suatu guha di Punung, Jawa timur yang mempunyai keantikan sekitar 80 ribu th yl dan juga bukti-bukti arkeologi di Australia yang mempunyai keantikan antara 60-38 ribu tahun yl.

Bagaimana bentuk fisik mereka? Kemungkinan bentuk tengkorak mereka mirip dengan dua fosil tengkorak yang berasal dari Asia barat (Israel) yaitu Skhul V dan Qafzeh. Kedua fosil tengkorak ini dianggap sebagai fosil H.sapiens purba yang hidup pada jaman Plestosen akhir sekitara 100 ribu th yl. Dibandingkan dengan tengkorak H.sapiens modern (manusia sekarang), morfologi tengkorak H.sapiens purba memberi kesan lebih kasar atau robust.

Dari segi budayanya (alat batu) H.sapiens purba ini mempunyai kebudayaan yang sangat sederhana dan tidak bervariasi. Tetapi memasuki perioda 60-40 ribu tahun yl teknologi peralatan lebih bervariasi. Hal ini mungkin disebabkan oleh kemampuan akal manusia yang hidup pada masa ini lebih maju sehingga mereka mulai menyebar ke berbagai tempat di muka bumi ini.
[Geologi ITB, 7 September 2005]
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s