FENOMENA ALAM



Duarrr, Batu Besar di Tepi Sungai Cijolang Terbelah [PR Kamis, 17 Jan, 2013]
KUNINGAN, (PRLM).- Sejumlah warga sekitar aliran Sungai Cijolang di Desa Cimenga, Kec. Darma, Kab. Kuningan dalam tiga hari terakhir diliputi rasa penasaran atas munculnya suara ledakan keras yang menyertai terbelahnya sebongkah batu besar dekat permukiman penduduk di tepi sungai tersebut. Bongkahan pecahan batu besar di tepi sungai itu juga kini menjadi tontonan masyarakat sekitar. Lokasi batu besar berdiameter sekitar 3 meter yang kini telah terbelah menjadi tiga bongkahan itu, tepatnya berada di tepi Sungai Cijolang, dekat leuwi (lubuk) Bolongoh, lingkungan RT 02/01, Desa Cimenga.

Sejumlah warga setempat, di antaranya Aep Saepudin (20), Katma (67) dan Ido (38), sebongkah batu besar itu tiba-tiba terbelah dengan sendirinya menjadi tiga bagian pada Minggu (13/1/13) pukul 4.00 WIB. Soal terbelahnya batu besar itu dinilai warga setempat tidak begitu aneh. Karena menurut sejumlah warga sekitar, jauh sebelum terbelah pun, bongkahan batu besar itu sudah terlihat beberapa alur retakan kecil. “Yang membuat herannya, mengapa pada saat batu ini terbelah sampai menimbulkan suara ledakan keras hingga menimbulkan getaran seperti gempa,” ujar Katma (67) diamini ungkapan senada sejumlah warga sekitar yang sedang melihat-lihat tiga bongkah pecahan batu tersebut, Rabu (16/1/13) siang.

Dimintai tanggapan mengenai hal itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan (DSDAP) yang juga membidangi energi Kab. Kuningan H. Kukuh T Malik, kepada “PRLM” menyatakan pihaknya belum bisa memastikan sumber energi pemicu bunyi ledakan tersebut. Kejadian batu pecah secara alami disertai suara ledakan itu, diperkirakan Kukuh terjadi karena dalam bagian tengah bongkahan batu besar itu itu terdapat struktur batuan terpisah yang mengalami pemuaian. “Pemuaian batu dalam bongkahan batu itu menimbulkan energi yang kuat hingga memecahkan bongkahan batu dan menimbulkan suara ledakan,” kata Kukuh. (A-91/A-88)
–oooOo—oOoo—oooOo—oOoo—oooOo—oOoo—oooOo—oOoo—oooOo—oOoo—oooOo—oOoo—
https://news.okezone.com/read/2017/04/29/18/1679280/historipedia-135-ribu-warga-bangladesh-tewas-diterjang-topan,29-4-18M abbey college 105, kemarin budi brahmantyo wafat

PEPATAH mengatakan, alam memiliki keseimbangannya sendiri. Makhluk hidup, termasuk manusia, hanya bisa berencana serta melakukan mitigasi bencana, tetapi tidak sama sekali bisa terhindar dari dahsyatnya kekuatan alam.

Demikian yang terjadi 26 tahun lalu di Bangladesh atau tepatnya 29 April 1991. Dilansir History, Sabtu (29/4/2017), lebih dari 135 ribu orang tewas akibat disapu angin topan. Padahal, pemerintah setempat sudah cukup banyak belajar dari badai mematikan yang melanda Bangladesh pada 1970.

Topan 2B sebetulnya sudah terdeteksi sepekan sebelum bergerak ke arah utara lewat Teluk Bengal. Namun, bencana tetap tidak bisa dihindari. Wilayah pantai tenggara Bangladesh disapu habis oleh topan 2B sehingga dianggap sebagai salah satu bencana alam terburuk pada abad ke-20.

Wilayah tenggara Bangladesh diketahui sebagai delta sungai Gangga dengan sungai lainnya yang bermuara di Samudera Hindia. Wilayah tersebut sangat rentan dihantam banjir bandang serta angin topan. Namun, tanah di sekitar wilayah tersebut cukup gembur dan subur.

Kendati mengandung bahaya, dengan alasan tanah subur dan gembur itu lah maka banyak warga miskin Bangladesh menetap di wilayah tersebut. Ribuan orang juga menduduki beberapa pulau-pulau kecil serta tinggal di wilayah garis pantai yang menghadap ke Samudera Hindia.
–oooOo—oOoo—oooOo—oOoo—oooOo—oOoo—oooOo—oOoo—
http://www.republika.co.id/berita/internasional/selarung-waktu/18/04/29/p7x771382-angin-topan-bunuh-135-ribu-orang-di-bangladesh,29-4-18M abbey college 105, kemarin budi brahmantyo wafat

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA — Pada 29 April 1991, bencana alam angin topan menerjang Bangladesh dan menewaskan lebih dari 135 ribu orang. Meskipun sudah ada banyak peringatan akan datangnya badai dan sejumlah tempat pengungsian telah dibangun, bencana tersebut masih menjadi salah satu bencana terburuk di abad ke-20, setelah badai mematikan pada 1970.

Dilansir dari History, ada pemberian nama yang berbeda untuk setiap badai yang muncul terkait lokasi terciptanya badai tersebut. “Cyclone” adalah nama yang diberikan untuk badai yang muncul di Samudra Hindia. “Typhoon” adalah nama untuk badai yang muncul di Samudra Pasifik, dan “Hurricane” adalah nama badai yang muncul di Samudera Atlantik.

Cyclone 2B yang menerjang Bangladesh sebelumnya telah dilacak selama sepekan, ketika mulai muncul di Samudera Hindia dan bergerak ke utara melalui Teluk Benggala. Angin topan ini menghantam pantai tenggara Bangladesh pada 29 April.

Wilayah tenggara Bangladesh adalah wilayah delta sungai, tempat Sungai Gangga dan sungai-sungai lainnya mengalir ke Samudra Hindia. Wilayah itu sangat rentan terhadap banjir dan juga telah menjadi jalur yang banyak dilalui angin topan.

Meski berbahaya, penduduk miskin di wilayah itu terus hidup di daerah tersebut karena tanahnya yang subur. Ribuan orang juga mendiami pulau-pulau kecil di tenggara negara itu.

Pada 1970, hampir setengah juta orang kehilangan nyawanya karena angin topan besar. Badai itu mendorong penduduk setempat untuk membangun beberapa tempat perlindungan. Namun, mereka tidak cukup belajar dari peristiwa tersebut.

Setelah mendapat banyak peringatan sebelum datangnya angin topan pada 1991, para penduduk tidak segera berlindung di tempat penampungan yang telah disediakan. Mereka justru memutuskan untuk berlindung hanya di dalam gubuk lumpur dan jerami milik mereka sendiri.

Saat badai datang dengan kecepatan 150 mil per jam, angin menyebabkan gelombang air naik setinggi 20 kaki di seluruh wilayah. Beberapa pulau kecil sepenuhnya tersapu air, ribuan orang hanyut ke laut dan tenggelam selama sembilan jam.

Butuh beberapa minggu untuk menemukan jasad para korban. Sebanyak 1,5 juta rumah hancur karena Cyclone 2B. Selain itu, satu juta ekor ternak hilang. Karena bencana tersebut, penduduk kehilangan banyak hasil panen dan kelaparan mengintai para korban selamat.

Tujuh dari sembilan badai paling mematikan di abad ke-20 terjadi di Bangladesh. Sistem peringatan dan perlindungan telah ditingkatkan sejak 1991, sehingga topan besar yang terjadi pada 1997 hanya memakan korban yang jumlahnya jauh lebih rendah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s