Sangiran gudangnya fosil hominid

Para peneliti di bidang paleo-antropologi, sejak tahun 1960-an hingga sekarang (kurang lebih selama 20 tahunan), telah banyak mengemukakan konsep tentang proses evolusi yg terjd pada manusia. Konsep-konsep ini pada umumnya bermunculan atas dasar penelitian mereka di kawasan Afrika, karena dari kawasan ini banyak ditemukan berbagai jenis dan tipe fosil hominid yang hidup pada jaman Plio-Plestosen. Pada umumnya fosil2 hominid dari Afrika ini ditemukan dari hasil penggalian shg umur atau keantikan dari fosil2 tersebut dapat diukur dg berbagai metoda.

Di kawasan Asia, Sangiran yg terletak di Jawa tengah adalah salah satu lokasi fosil hominid yang dapat disetarakan dg Afrika, karena dr sini juga banyak ditemukan berbagai tipe fosil hominid. Sejak th 1936 hingga th 1980-an paling tidak sdh ditemukan sekitar 34 individu disamping puluhan serpihan2 fosil tulang dan gigi. Tetapi salah satu problem bagi penyelidikan fosil hominid yg berasal dari Sangiran ini adalah masalah umur. Hampir seluruh dari fosil2 tsb bukan ditemukan dari hasil penggalian tetapi diketemukan secara kebetulan oleh penduduk setempat, shg dg dmk posisi stratigrafinya tidak jelas.

Pada tahun 1977 hingga 1979, tim Indonesia-Jepang melakukan usaha unt menyelesaikan masalah umur fosil2 hominid dari Sangiran ini, melalui berbagai metoda seperti penelitian geologi, paleontology, geokronologi dan geokimia antaralainmelakukan penelitian kandungan fluorine (F) yg terdpt didlm fosil tulang yg diperoleh dari hasil penggalian.

Masalah lain dari fosil2 homind dari Sangiran adl fosil2 tsb mempunyai banyak nama. Misalnya saja S-17 dinamai juga sebagai P-VIII, Skull IX mempunyai nama lain yaitu Tjg-1993.05. Para peneliti pada awalnya memberi nama fosil2 tsb P (kependekan dari Pithecanthropus) dan diikuti dg angka romawi, misalnya P-I, P-II dst jika fosil2 tsb berupa kepingan tulang kepala, dan jika fosil2 tsb berupa kepingan tulang rahang bawah atau rahang atas, diikuti dg alphabet (bukan angka romawi), seperti Pa, Pb, Pf dst. Kemudian penamaan fosil tsb mengikuti sistim penomeran museum British (British Museum’s Catalogue No), yaitu dg menggunakan singkatan nama dimana fosil tsb ditemukan dan diikuti dg nomor. Misalnya P-VIII yg ditemukan di Sangiran diberi label S-17 (nomor ini berarti fosil P-VIII merupakan koleksi nomor 17). Selain itu pula, dalam kontek taksonomi, para peneliti tsb, sering memberi nama tersendiri thd satu fosil yg sama. Misalnya S4 diberi nama P.robustus oleh ?? & P.modjo oleh ??. Tetapi kmd Lovejoy (1970) dan Clark (1978) mengusulkan agar semua fosil hominid dr Sangian diberi nama H.erectus. Sementara itu van Heekeren (1972) mengusulkan nama H.e.erectus unt fosil2 yg berasal dr Fm.Kabuh & H.e.robustus unt fosil2 yg berasal dr Fm.Pucangan.

Sumber: Matsu’ura (1982)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s